Sedikit Mengenal Minyak di Indonesia

Kamis, 09 Juli 2009

Bahan Bakar Minyak sudah menjadi bagian utama dari kehidupan manusia modern saat ini. Betapa tidak karena listrik, kendaraan, dan sebagainya sangat bergantung dengan benda yang satu ini. Sehingga tidak heran ketika harga benda ini sedikit berubah pun berpengaruh cukup banyak terhadap perekonomian modern.

Di Indonesia sendiri, selama ini kita mengenal bahwa negara ini merupakan salah satu penghasil minyak dunia. Negara ini pernah (dan masih?) bergabung dengan organisasi negara pedagang minyak dunia yang disebut OPEC. Namun konon katanya kita juga merupakan salah satu negara pengimpor minyak terbesar di dunia (nah lo??). Kita juga seringkali mengenal istilah subsidi BBM. Konon katanya sih BBM di negara kita telah disubsidi pemerintah. Untuk itu marik kita bahas sedikit dari permasalahan minyak di negeri kita ini.

Negara Pengekspor Minyak

Apakah benar negara kita merupakan salah satu pengekspor minyak? Jawabannya adalah iya. Lalu apakah negara kita juga negara pengimpor minyak? Jawabannya juga iya. Bagaimana bisa?

Kandungan minyak di Indonesia adalah salah satu dari jenis minyak yang terbaik di dunia. Tetapi apa yang beredar di masyarakat bukanlah minyak dari negara kita sendiri. Pemerintah menggunakan sistem ekspor-impor. Minyak kita (yang konon katanya lebih bagus dan tentunya lebih mahal itu) dijual ke luar negeri. Kemudian pemerintah membeli minyak lain yang lebih murah untuk digunakan di dalam negeri. Tentu saja harapannya itu semua demi alasan ekonomi.

Akan tetapi meskipun harga di atas kertas antara minyak yang kita jual dan kita beli terdapat selisih harga, namun setelah dikenai biaya lain-lain (transportasi dsb) ternyata justru biaya beli kita lebih mahal dari harga minyak yang kita jual. Anggap lah harga minyak kita 1000. Lalu kita beli minyak lain yang harganya 800. Namun pada kenyataannya harga minyak terseut setelah dihitung dengan ongkos jerigen dan sebagainya justru 1100. Oleh karena itu kini sebagian pihak mempertanyakan alasan kebijakan pemerintah dalam ekspor-impor minyak karena dalam prakteknya justru kita terus merugi. Mungkin sudah saatnya pemerintah meninjau ulang kebijakan ekspor-impor tersebut.

Subsidi BBM

Apa yang terbayang dalam kepala kita ketika mendengar istilah subsidi BBM? Pemerintah mengalokasikan sebagian pendapatannya dari sector pajak atau apapunlah untuk memberikan subsidi pada masyarakat. Oleh karena itu wajar jika akhir-akhir ini pemerintah menghapuskan subsidi BBM (malah justru mengambil untung dari BBM penjualannya) karena dianggap memanjakan rakyatnya, terutama golongan menengah ke atas.

Sebenarnya itu tidak bisa dibilang benar, namun disebut salah juga tidak tepat. Apa yang disebut subsidi BBM yang sebenarnya adalah selisih harga minyak di dalam negeri dengan harga minyak dunia.

Pada awalnya Negara kita memproduksi minyak jauh lebih banyak dari konsumsi masyarakat. Selisih ini tentunya memberikan keuntungan dan keuntungan inilah yang digunakan sebagai apa yang biasa kita sebut sebagai “subsidi”. Sehingga menurut saya mungkin istilah subsidi kurang tepat digunakan karena yang terjadi bukanlah subsidi melainkan kita menikmati hasil kekayaan alam kita sendiri. Jadi istilah penghapusan subsidi demi kemandirian bangsa saya rasa juga kuranglah tepat.

Mengapa kita harus mengikuti harga orang lain untuk barang kita sendiri? Pertanyaan itulah yang seringkali ditanyakan oleh para ekonom radikal dan menuduh pemerintah yang mulai dimasuki paham neo liberal. Ini juga yang menjadi dasar beberapa pihak yang mengatakan bahwa kenaikan harga minyak dunia seharusnya tidak perlu diikuti dengan kenaikan harga minyak dalam negeri. Karena logikanya meskipun pengeluaran kita untuk membeli minyak bertambah akan tetapi dengan kenaikan harga tersebut tentunya pemasukan kita juga bertambah dari hasil penjualan minyak. Dengan asas menikmati hasil kekayaan alam sendiri tentunya tidaklah tepat penghapusan subsidi BBM oleh pemerintah.

Kembali pada masalah produksi dan konsumsi. Namun dalam perjalanannya selisih jumlah produksi dengan jumlah konsumsi yang kian lama makin berkurang (bahkan pada sekitar tahun 2004 bisa dibilang “defisit” dalam arti jumlah konsumsi lebih banyak daripada jumlah produksi). Hal ini disebabkan oleh perkembangan zaman dan selain itu faktor utamanya adalah sudah tuanya sumur-sumur minyak kita sehingga kapasitas produksinya menurun.

Oleh karena itu kini pemerintah sedang giat-giatnya mengurangi konsumsi minyak kita melalui konversi energi. Selain itu juga telah dimulai usaha-usaha pembukaan sumur-sumur minyak baru di Indonesia.

Minyak Dikuasai Asing

Salah satu isu yang paling sering dibahas di Negara ini adalah pengelolaan sumber daya alam Indonesia oleh asing. Tentunya dalam hal ini kita akan membahas tentang minyak.

Seperti telah diketahui dan menjadi rahasia umum bahwa memang banyak sumur-sumur minyak kita dikuasai asing. Hal ini dikarenakan biaya pengeboran minyak bukanlah suatu hal yang murah, dan pemerintah tidak mau ambil resiko dalam hal ini. Bayangkan saja, biaya untuk pengeboran awal saja sekitar 25-30juta dolar amerika. Dan itu juga belum lagi resiko bahwa tempat tersebut ternyata tidak ada kandungan minyaknya. Karena katanya bisnis minyak adalah bisnis yang untung-untungan. Tidak ada jaminan pasti suatu temapat ada sumber minyaknya atau tidak. Belum lagi biaya tenaga ahli dan peralatan yang sangat mahal.

Oleh sebab itulah pemerrintah lebih memilih bekerjasama dengan para investor dikarenakan resikonya yang terlalu besar untuk ditanggung sendiri. Dalam hal ini mengapa investor asing adalah karena bisnis minyak adalah bisnis dengan resiko tinggi yang kurang diminati oleh investor dalam negeri sehingga tidak heran jika yang lebih banyak berkecimpung dalam bisnis ini adalah investor asing.

Penutup

Sebagai penutup seperti sebelumnya, saya akan mengutip sepenggal dari konstitusi negara kita. Dalam hal ini adalah pasal 33 UUD 1945.

BAB XIV
KESEJAHTERAAN SOSIAL

Pasal 33
(1) Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
(2) Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara.
(3) Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Mari kita tengok kembali apakah pemerintah telah melakukan apa yang diamanatkan dalam konstitusi dasar Negara kita. Apakah minyak sebagai salah satu cabang produksi penting dan menyangkut hajat hidup orang banyak telah dikuasai oleh pemerintah sesuai amanat UUD 1945 pasal 33 ayat 2 ataukah justru dikuasai swasta dan pihak asing sesuai harapan paham neo liberal? Apakah sumber daya alam yang ada sudah digunakan sebesar-besarnya demi kemakmuran rakyat ataukah pemerintah lebih menyukai penghapusan subsidi? Apakah pemerintah lebih menurut pada UUD 1945 ataukah lebih menuruti consensus Washington?

Siapapun presidennya, semoga permasalahan ini mendapat perhatian yang serius dari pemerintah. Mari berharap demi kejayaan NKRI. NKRI Jayamahe!!!

AddThis Social Bookmark Button
Email this post

Pilpres 2009 dan Rahasia Kemenangan SBY-Boediono

Pilpres 2009 dan Rahasia Kemenangan SBY-Boediono Jauh-jauh hari sebelum PILPRES saya sudah yakin sepenuhnya bahwa SBY akan memenangkan kembali PILPRES 2009. Bukan karena kehebatan SBY dan Tim Suksesnya, tetapi karena ada dukungan dari AMERIKA SERIKAT (AS) terhadap SBY, sejak Pemilu 2004.

Dan saya sudah yakin sebelumnya bahwa SBY juga tidak akan memilih Hidayat Nurwahid (PKS) sebagai cawapresnya. Bukan karena Hidayat Nurwahid jelek atau tidak disukai SBY, tetapi karena SBY sadar sepenuhnya bahwa untuk mendapatkan dukungan dari AS maka perlu memilih cawapres yang disukai atau direkomendasikan oleh AS yaitu Sri Mulyani atau Budiono.

Memilih Hidayat Nurwahid yang berbasis partai Islam tentu saja tidak disukai oleh AS, dan dengan mudah SBY ditinggalkan atau dijatuhkan oleh AS dan sekutunya.
Banyak orang heran mengapa sejak tahun 2004 tiba-tiba SBY menjadi sedemikian popular dan mendapat tempat di hati rakyat?
Dan mengapa tahun 2004 dan 2009 ini suaranya begitu besar?
Apa jasa SBY yang terbesar sehingga rakyat Indonesia begitu memujanya?
Kalau memang AS berada dibalik kemenangan dan popularitas SBY, bagaimana cara kerjanya?
Itulah hebatnya konspirasi dari Negara-negara penjajah yang tidak tersentuh dan bekerja secara canggih.

Di dalam buku karya Bob Woodward yang berjudul “Perang Rahasia CIA 1981-1987″ ditemukan banyak bukti nyata yang menunjukkan peran Negara AS dan sekutunya dalam mempengaruhi seluruh Negara-negara di dunia. Mulai cara yang halus sampai dengan cara yang kasar, misalnya dari menskenario berita di media massa sampai mendanai pemberontakan dan pembunuhan terselubung.

Di dalam Pemilu 2009 ini, ada beberapa fakta yang bisa kita kumpulkan, dianalisa dan dirangkai sampai menemukan adanya kekuatan besar yang ikut bermain dibelakang SBY. Fakta-fakta ini bisa saja dianggap lemah dan tidak berdasar pada bukti yang nyata. Karena kalau mudah ditebak dan diungkap ke public, bukan teori konspirasi namanya.

Di tahun 2004, SBY tiba-tiba menjadi popular bukan karena dia hebat dan cerdas, atau bukan karena jasanya yang besar bagi Negara Indonesia tetapi karena HANYA di bilang kekanak-kanakan oleh Taufik Kiemas suami Megawati. Dan segera saja ada blow up dari media massa yang mengarah pada pencitraan bahwa SBY telah di didolimi/dianiaya oleh Megawati. Begitu kuatnya pemberitaan itu, sehingga SBY “tampak” seperti orang baik dan Megawati “tampak” seperti orang jahat. Dan rakyat kebanyakan secara umum mudah dipengaruhi oleh hal-hal kecil seperti ini. Siapa yang menskenario media massa Indonesia sehingga bisa semudah itu tergiring untuk mempahlawankan SBY hanya karena masalah sepele?

Di tahun 2004, juga di tahun 2009, Partai Demokrat tidak hanya memenangkan banyak suara di Indonesia, tetapi juga diluar negeri. Padahal tahun 2004 partai Demokrat adalah partai yang baru muncul. Ada semacam jaringan Intelligen yang sangat kuat yang ikut berkerja untuk memenangkan PD dan SBY. Dan tentu saja bukan jaringan inteligen dari Indonesia yang mampu melakukan hal-hal besar seperti itu. Dugaan saya adalah jaringan inteligen dari Negara penjajah pimpinan Amerika Serikat.

Coba lihat selama kampanye PILPRES 2009. Hampir tidak ada kejelekan atau kesalahan SBY yang ter blow up oleh media massa. Kalapun ada hanya muncul sebentar, lalu dengan cepat akan tertutup oleh isu-isu lain. Dan yang terpengaruh hanya sekelompok kecil rakyat Indonesia yang melek Informasi dan memiliki daya berpikir kritis. Bukan kebanyakan rakyat Indonesia yang jauh-jauh hari telah dipengaruhi atau dihegemoni akan kebaikan SBY. Atau kampanye sudah disetting sedemikian rupa untuk tidak mampu merubah pilihan rakyat.

SBY menang di quick count, dan tidak ada protes. Hebat bukan? Sekalipun ada kecurangan, yang bahkan kecurangan yang telah di ambil gambarnya oleh TV. Kenapa? Karena ada jaringan yang secara hebat bekerja dan mempengaruhi untuk tidak tercipta protes dan lain-lain. Yang jelas karena SBY didukung oleh AS. Berbeda dengan kejadian di Iran, ketika Ahmadinejad memenangkan PILPRES baru-baru ini. Tiba-tiba muncul isu kecurangan (yang tidak terbukti sama sekali) dan terjadi protes di mana-mana. Lalu, tiba-tiba ada seorang demonstran wanita yang tertembak. Lalu, CNN memberitakan berkali-kali selama hampir 4 jam tanpa putus, dan selama beberapa hari yang mampu mengarahkan opini dunia seakan Ahmadinejad yang menembak sendiri demonstran tersebut. Dan lihat juga, televisi di Indonesia yang juga turut menyiarkan secara berulang-ulang sampai beberapa hari. Bandingkan dengan pemberitaan tentang pembunuhan rakyat di Irak dan Afganistan oleh tantara AS yang hamper setiap hari terjadi. Yang jumlahnya mencapai ratusan ribu orang. Benar-benar mengerikan namun tidak pernah diberitakan. Sehingga rakyat di dunia menganggap Presiden Iran penjahat dan presiden Amerika adalah orang baik. Untunglah, rakyat Iran cukup solid dan tidak mudah diinfiltrasi dan diadu dmba lebih jauh.

Opini melalui media massa adalah salah satu alat yang paling utama di gunakan oleh AS dan sekutunya untuk terus menguasai dunia. Lihatlah Israel yang menjajah dan bertindak brutal dengan menembaki demonstran Palestina, bahkan menyerang rakyat tidak berdosa Palestina secara membabi buta. Namun, opini di dunia sanggung di setting atau di arahkan sedemikian rupa untuk menutup-nutupi kejahatan Israel di Palestina. Sekalipun secara resmi Badan Dunia telah menyatakan Israel telah melakukan kejahatan perang di Palestina. Bahkan, media massa bisa digiring ke opini bahwa kelompok Hamas lah yang bersalah. Luar biasa bukan?

Apakah benar media massa Indonesia semudah itu dipengaruhi pemberitaannya oleh agenda konspirasi global? Saya tidak tahu secara persis. Namun, coba pertanyaannya dibalik, sejauh manakah para pekerja media massa Indonesia menyadari sepenuhnya akan adanya teori konspirasi global tersebut? Mungkin kawan-kawan dari media massa yang paling berhak untuk menjawab secara jujur dan kritis masalah ini.
Kasus di Malalah Time di mana SBY ditempatkan sebagai 100 tokoh yang paling berpengaruh di dunia. Setelah di chek berkali-kali, ternyata nama SBY tidak termasuk dari 100 tokoh tersebut, bahkan nama SBY tidak tercantum di daftar kandidatnya yang berjumlah 203 orang. Tetapi majalah Time, memuat foto 100 tokoh tersebut di sampul halaman, dan ada gambar SBY. Kok bisa ya? Begitukah cara salah satu mesin inteligen AS bekerja? Dan hebatnya, di Indonesia, ketokohan SBY di Majalah Time itu diiklankan diberbagai media massa. Anehnya, hamper tidak ada media massa yang mau mengulas kebohongan tersebut. Hanya sedikit sekali di metro TV yang pernah saya lihat ditengah malam hari.

Dana kampanye yang sangat besar dari ketiga capres Indonesia. Dari mana mereka mendapatkan, dan seberapa besar yang telah dikeluarkan? Dari tahun ke tahun, rakyat Indonesia tidak pernah benar-benar tahu karena masih lemahnya system keterbukaan terhadap keuangan di Indonesia. Dan ini adalah celah yang sangat mudah disusupi dipermainkan oleh orang luar yang memiliki kepentingan. Dan bisa saja, ketiga Capres mendapatkan dukungan dana dari luar. Tetapi, kita tidak pernah tahu dan tidak pernah terungkap.
Berbondong-bondongnya partai Islam berkoalisi dengan Partai Demokrat dan SBY, tentu bukan kejadian yang normal dan natural. Karena ada jaringan inteligen AS dan jaringannya di Indonesia yang ikut bermain. Coba kita pikirkan lagi secara mendalam, alasan apa sesungguhnya yang membuat partai-parti berbasis Islam sedemikian mudahnya bergabung dengan SBY? Apakah hanya murni masalah kekuasaan? Menurut saya tidak, karena sekalipun mereka memang juga rakus kekuasaan, tetapi ada ideology yang masih tersisa yang membuat mereka harusnya tidak semudah itu berkoalisi dengan SBY.

Dan berbagai fakta yang lain yang masih sangat banyak yang bisa kita temukan, yang kalau kita mau berpikir kritis dan mendalam akan benar-benar terungkap adanya AS dibalik PILPRES 2009.
Sehingga kemengan SBY bukan ditentukan oleh rakyat, tetapi ditentukan oleh Kekuatan Asing bernama Amerika Serikat dan sekutunya.

Intinya AS dan sekutunya bisa menaikkan atau menjatuhkan popularitas seseorang dalam waktu singkat dan secara sistematis tanpa rakyat kebanyakan menyadarinya. Bahasa kasarnya adalah kalau tiba-tiba secara tidak sengaja anda menginjak semut. Lalu semut itu mati karena anda. Lalu di blow up sedemikian rupa di media massa. Maka akan sanggup membuat orang yang melihatnya menjadi sangat kasihan kepada semut yang terinjak dan mati tersebut, dan kemudian menyalahkan anda sebagai orang yang tidak bertanggungjawab dan kejam karena telah membunuh semut.

Pertanyaan penting berikutnya adalah Tidak adakah orang-orang ditingkat elit dan orang pandai di Indonesia yang mengetahui hal ini?
Saya yakin sudah banyak yang tahu. Karena disamping orang-orang pintar, Indonesia juga memiliki intelegen Negara, yang sekalipun lemah tetapi cukup mampu untuk mengungkap adanya konspirasi ini.
Terus kenapa diam saja?
Ada beberapa hal menurut analisa saya :

Ada yang memanfaatkan kesempatan ini untuk mendapatkan jabatan dan kekuasaan. Bukannya untuk melawan infiltrasi dan pengaruh luar atau kontra inteligen. Dan biasanya dimiliki oleh orang yang bermental antek atau begundal penjajah, haus kekuasaan dan tidak peduli pada nasib rakyat dan bangsa Indonesia. Sekalipun di media, mereka tampaknya sangat peduli dan memikirkan rakyat.

Ada yang mencoba untuk melawan dan mengajak rakyat Indonesia untuk mampu melawan agenda AS dan sekutunya (penjajah), namun karena tidak kuat oleh serangan balik para penjajah, lalu menjadi putus asa. Mereka biasanya dicitrakan buruk oleh media massa dan tidak disukai oleh rakyat.

Ada yang mencoba untuk melawan tetapi dengan setengah hati. Karena memiliki kepentingan lain, dan takut kepentingannya dihancurkan oleh AS & Sekutunya. Mereka secara perlahan-lahan kemudian disingkirkan oleh para penjajah dari pentas atau arena kekuasaan.

Ada yang masih berjiwa muda saat ini, yang sedang membangun konsolidasi gerakan untuk melawan agenda penjajahan. Berjuang menyadarkan rakyat untuk bangkit dan sadar sepenuhnya bahwa Indonesia masih terjajah. Dan pada suatu saat nanti mampu melawan, membebaskan Indonesia dari penjajahan dan menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang maju, bangsa yang besar dan bermartabat.

Evo Morales presiden Bolivia, adalah salah satu contoh pemimpin yang tidak disukai oleh AS dan sekutunya, namun akhirnya mampu memenangkan pemilihan presiden. Dan sekarang Bolivia menjadi lebih maju. Evo Morales telah menasionalisasi perusahaan-perusahaan minyak multinasional miliknya para penjajah. Sehingga di media massa jaringan milik AS dan sekutunya selalu mencitrakan Evo Morales dan Bolivia secara buruk. Dan begitulah memang maunya AS & Sekutunya, yang akan berjuang dengan segala cara untuk mengganggu rakyat Bolivia dan menggulingkan Evo Morales.

Sukarno digulingkan bukan oleh Suharto, tetapi oleh kekauatan besar seperti AS. Suharto hanyalah bagian dari alat penjajah. Suharto bisa menggulingkan Sukarno dan menghilangkan pengaruh Sukarno di mata rakyat karena dukungan yang luar biasa besar dari AS. Data-data tentang hal ini sudah mudah kita dapatkan di buku-buku yang bercerita tentang peran CIA dalam penggulingan Sukarno.
Kalau Negara lain bisa, seperti Cina, Iran dan Bolivia, mengapa Indonesia tidak?

AS dan sukutunya sebenarnya sudah mulai berkurang kekuatannya, karena semakin banyaknya Negara yang kaya sumber daya alam yang bangkit melawan penjajahan seperti Iran dan Bolivia. Juga Negara yang banyak penduduknya seperti Cina. Sehingga terjadilah Krisis keuangan dinegara penjajah tersebut. Sehingga saat ini adalah saat yang tepat bagi kita rakyat Indonesia untuk mulai bangkit dan melawan agenda-agenda penjajahan. Salah satunya adalah melawan neoliberalisme.

Karena kekayaan AS dan sekutunya di dapatkan dari eksploitasi sumber daya alam dan rakyat dari Negara jajahannya seperti Indonesia. Seperti Belanda yang menjadi kaya dan maju karena menjajah Indonesia selama 350 tahun.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post

international relation: Karakter Hubungan Internasional di Abad 21

Kamis, 21 Mei 2009

international relation: Karakter Hubungan Internasional di Abad 21

AddThis Social Bookmark Button
Email this post

Iran Luncurkan Rudal Sejil Dua Susun


SEMNAN, KOMPAS.com - Presiden Mahmoud Ahmadinejad mengatakan, Rabu (20/5), Iran telah mengujitembakkan sebuah rudal darat baru berjarak sedang.

"Menteri Pertahanan (Mohammad Mostafa Najjar) mengatakan kepada saya hari ini bahwa kita telah meluncurkan sebuah rudal Sejil-2, yang merupakan rudal dua susun dan telah mencapai sasaran yang dituju," kata Ahmadinejad dalam pernyataan di kota Semnan, Iran utara.

"Saya diberi tahu bahwa rudal itu bisa melesat melampaui atmosfir dan kemudian kembali lagi dan menghantam sasarannya. Rudal itu bekerja dengan bahan bakar padat," kata Ahmadinejad, yang disambut oleh sorak-sorai massa.

Ia tidak menjelaskan secara terinci daya jangkau rudal tersebut.

Menteri Pertahanan Mohammad Mostafa Najjar mengatakan pada 12 November, Iran telah mengujitembakkan sebuah rudal darat generasi baru. "Ini sebuah rudal dua susun yang membawa dua mesin dengan bahan bakar padat terpadu," kata Najjar pada saat itu, dengan menambahkan bahwa rudal itu diberi nama Sejil.

Televisi pemerintah saat itu menunjukkan peluncuran rudal tersebut, yang ukurannya sama dengan rudal jarak sedang Iran, Shahab-3.

Pada masa silam, Iran seringkali membanggakan pengembangan sistem persenjataan baru, namun hal itu hanya disambut dengan skeptis oleh para analis pertahanan Barat.

Najjar mengatakan kepada televisi pada November, rudal baru itu memiliki "daya jangkau hampir 2.000 kilometer", yang sama dengan jangkauan rudal Shahab-3 dan bisa menghantam musuh bebuyutan Iran, Israel.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netayahu telah menyatakan, teknologi rudal Iran dan program nuklirnya yang kontroversial menimbulkan ancaman yang lebih besar bagi negara Yahudi tersebut ketimbang yang pernah dihadapinya sejak pembentukan Israel pada 1948.

Iran menekankan bahwa program nuklirnya hanya bertujuan untuk memproduksi listrik bagi penduduknya yang meningkat karena bahan bakar fosilnya semakin berkurang.

Namun Israel -- satu-satunya negara yang memiliki senjata nuklir namun tidak diumumkan -- menuduh program itu hanya sebagai selubung untuk membuat bom nuklir.

Dewan Keamanan PBB telah memberlakukan tiga paket sanksi terhadap Iran setelah mereka tidak mematuhi ultimatum untuk menghentikan program pengayaan uranium, proses yang membuat bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga nuklir namun bentuk yang sangat diperkaya juga bisa digunakan untuk membuat bahan inti sebuah bom atom.


AddThis Social Bookmark Button
Email this post

Karakter Hubungan Internasional di Abad 21

Selasa, 19 Mei 2009

Pendahuluan

Bagaimana sesungguhnya corak hubungan internasional pada abad ke-21 ? Dengan memperhitungkan kecenderungan dan prakiraan sejumlah pakar ekonomi, hubungan internasional dan bisnis, ternyata dunia pada akhir abad ke-20 dan awal abad ke-21 memiliki sejumlah karakter yang berbeda.

Dalam artikel ini akan dicatat sejumlah perubahan yang menjadi kecenderungan dalam pola dan karakter hubungan internasional. Meskipun tentu saja tidak mudah mengidentifikasi bagaimana persisnya sifat dari dunia nanti namun sejumlah peristiwa dan kecenderungan sudah memperlihatkan bahwa dunia pada abad ke-21 berbeda dengan sebelumnya. Tidak hanya karena revolusi teknologi komunikasi, tetapi juga karena dalam tataran ideologis sudah relatif tidak ada pertentangan yang menajam dan mendunia. Dari segi isu-isu internasional jelas sudah ada pergeseran berarti dari bidang ideologis yang termanifestasikan dari persaingan militer dan aliansi menjadi bernada ekonomi-politik. Tema-tema seperti hak asasi manusia, demokratisasi, keterbukaan politik dan lingkungan menjadi vokal pada saat ini. Diperkirakan pada awal abad ke-21, justru isu-isu ini akan semakin menguat.

Bentuk aliansi juga mengalami perubahan berarti dari aliansi yang bersifat politik-militer menjadi aliansi atau persekutuan atau perhimpunan yang menekankan kerja sama ekonomi.
Jika meminjam teori new institutionalism maka aspek kerja sama menjadi fokus untuk menggantika aspek persaingan atau permusuhan.

Memang teoritisi realis masih hidup dalam percaturan internasional namun gemanya tidak sehebat ketika Perang Dingin lahir dan berkembang sampai tumbangnya Uni Soviet tahun 1991.
Gaddis bahkan pernah mengherankan mengapa teori-teori hubungan internasional yang ada sekarang tak bisa meramalkah berakhirnya Perang Dinin. Perdebatan teori itu kemudian bergeser pada semacam aplogia bahwa memang tidak semua teori bertugas meramalkan kejadian internasional.

Apapun alasan dan argumentasinya, jelas bahwa teori hubungan internasional mengalami perubahan format. Realisme telah melahirkan neorealisme. Perkembangan ini saja telah memberikan semacam alasan bahwa memang revisi terhadap pemahaman hubungan internasional memerlukan revisi besar-besaran dan mengakar.

Kehadiran teori itu juga seperti membuktikan bahwa aneka ragam teori hubungan internasional meskipun lahir di tangan seorang atau sekelompok pakar HI berpengalaman dari perguruan prestisius masih saja memiliki kelemahan. Ini bukan berarti mengecilkan perkembangan teori yang ada namun bahwa aspek hubungan internasional menjelan milenium baru itu berbeda bahkan tidak mustahil berbeda sama sekali dengan apa yang terlihat sekarang.
Kita lihat saja bagaimana komentar para pakar bisnis tentang dunianya.

Lester Thurow menyebutkan adanya lima kekuatan dunia. “Saya menyebutnya piringan ekonomi yang didasarkan pada konsep geologi dimana gempa bumi dan ledakan gunung berapi disebabkan oleh gerakan piringan raksasa benua yang disebut piringan tektonik yang mengambang di inti bumi. Menurut dia, lima piringan tektonik ekonomi ini akan mendorong semua perubahan dan secara fundamental menciptakan kembali permukaan ekonomi bumi.

Piringan pertama adalah berakhirnya komunisme. Thurow berpendapat, sepertiga manusia hidup di dunia komunis. Mereka akan bergabung kedalam dunia kapitalis.

Kedua, Thurow melihat adanya gerakan dari industri berbasiskan sumber daya alam menuju industri otak manusia. Industri ini akan melahirkan lingkungan yang baru.

Kekuatan ketiga adalah tentang tiga hal yang sedang berjalan dalam masalah demografi. Ia menilai, penduduk dunia tumbuh, bergerak dan juga semakin tua. Mulai 2025 di negara-negara industri, mayoritas penduduknya berusia di atas 65 tahun. Hal ini juga akan mengubah sosiologi, psikologi, bisnis, anggaran pemerintah.

Pada saat yang sama, masyarakat nanti akan menjadi yang pertama dalam sejarah kemanusiaan yang benar-benar menjadi kekuatan ekonomi global sejati. Masyarakat nanti bisa memproduksi apa saja dimana saja di muka bumi dan menjualnya dimana saja di muka bumi. Inilah yang disebut Thurow sebagai piringan tektonik keempat.

Sedangkan kekuatan kelima dan terakhir seperti diungkapkan Thurow adalah untuk pertama kali dalam 200 tahun kita takkan memiliki dunia unipolar dengan satu kekuatan ekonomi, politik atau militer yang dominan seperti hal yang terjadi pada abad ke-19 dengan Inggris dan pada abad ke-20 dengan kekuatan Amerika Serikat.


Masa depan ideologi

Seperti halnya pada abad ke-20, ideologi dalam hubungan antar bangsa masih menjadi salah satu unsur penting. Persoalan yang dihadapai nanti adalah apa yang jadi ideologi masa depan.
Huntington membicarakan soal Clash of Civilisation antara Barat versus Islam atau Konfusius

Graham Fuller dalam artikelnya The Next Ideology (Foreign Policy, Spring 1995) menegaskan, ideologi-ideologi masa depan yang datang dari Dunia Ketiga akan menjadi penantang Barat Ia menilai, bentuk ideologi mendatang merupakan gabungan dari nilai dan lembaganya.

Munculnya ideologi baru itu merupakan konsekuensi dari keadaan vakuum yang diakibatkan pupusnya pengaruh gaya Marxisme-Leninisme di Uni Soviet. Untuk memahami bagaimana ideologi masa depan ini, ia merumuskannya dalam nilai-nilai yang muncul dari ideologi Barat.

Kedua adalah keyakinan bahwa nilai etik dan politik demokrasi. Ia menyebutkan, kandidat yang berperan potensial dari Dunia Ketiga untuk tampil adalah Indonesia, Aljazair, Brasil dan Afrika Selatan. Dalam era masa datang, AS akan menghadapi tiga konvergensi.

Pertama, pada era masa depan, Barat yang dominan akan memasuki masa pengkajian ulang tentang cara mengimplementasikan nilai-nilai filosofisnya, proses penyaringan cita-cita yang sekarang berlaku tidaklah cukup. Tatanan lama tradisi Barat bukanlah model yang perlu diperjual ke seluruh dunia.

Kedua, Dunia Ketiga akan berkembang terus secara beraneka ragam dengan berbagai negara meraih tahap baru “modernisasi” di berbagai waktu. Mereka yang membuat secara ekonomi seperti Barat mungkin akan menyesuaikan pandangannya sederajat pada pertama kalinya.
Ketiga, sepretiga negara Dunia Ketiga takkan seperti itu dan akan membutuhkan bantuan dan dukungan untuk menghindari terseret kedalam tatanan dunia dalam konfrontasi antara tatanan Barat dan non-Barat.

Mantan PM Inggris Margareth Thatcher dalam ceramah di Jakarta tahun 1995 memperkirakan pada masa depan, kemakmuran lebih penting dari persenjataan, teknologi akan mengendalikan percaturan internasional dan bukannya tenaga manusia. Pasar bebas lebih bermakna dari regulasi berlebihan. Dengan demikian, kata Tathcher, lomba di bidang perekonomian akan muncul dalam suatu pertentangan Barat dan Timur yang baru meskipun secara damai. Akhir Perang Dingin memungkinkan adanya ketegangan pada hubungan dagang yang sebelumnya tertahan karena ancaman militer.

Penutup
Dengan melihat berbagai perkiraan yang muncul di masa depan berlandaskan realitas pada abad ke-20 maka percaturan hubungan internasional akan didominasi dengan isu-isu ekonomi-politik bukannya militer. Dengan adanya persoalan ekonomi-politik yang lebih kuat dibandingkan dengan isu-isu ideologis dan militer maka, dalam tahun-tahun terakhir abad ke-21 dapat disaksikan menjamurnya blok-blok perdagangan atau pengelompokan ekonomi. Mengentalnya regionalisme itu menandakan adanya pengumpulan kekuatan bersama diantara negara tetangga untuk menghadapi serbuan modal, teknologi , barang serta jasa yang bisa merendahkan kemakmuran kawasan.

AddThis Social Bookmark Button
Email this post

Design by Amanda @ Blogger Buster